Rabu, 22 Agustus 2012

Cara-Cara Mengendalikan Emosi



Emosi merupakan perasaan intens yang di tujukan kepada seseorang atau suatu objek. Emosi dapat berupa sesuatu yang positif maupun sesuatu yang negative. Emosi yang positif biasa di tunjukkan dengan perasaan bahagia dan gembira ketika merasa senang dengan sesuatu, sebaliknya emosi yang negative di tunjukkan dengan perasaan marah ketika merasa kesal dan kecewa dengan suatu keadaan. Emosi negative ini lah yang harus kita redam/ kita kendalikan.
Merasa kesal, marah, dan kecewa pada suatu keadaan tentunya pasti sering kita rasakan. Kesal kepada orang tua, kakak, adik, saudara, teman, dan mungkin orang-orang di sekitar kita lainnya merupakan hal yang sangat wajar. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Banyak hal yang dapat membuat kita merasa marah/kesal baik dari hal-hal yang kecil sampai ke hal-hal yang besar sekalipun. Ketika kita merasa marah dan kesal terhadap sesuatu mungkin beberapa dari kita melampiaskan kemarahan itu dengan caci maki atau mungkin pukulan/kekerasan lainnya. Tapi penting kita ketahui bahwa melampiaskan kemarahan dengan cara seperti itu sama sekali tidak ada artinya. Itu bahkan bisa merugikan diri kita sendiri. Coba kamu pikirkan, ketika kamu melontarkan caci maki, kamu akan melukai perasaan orang lain, dan tentunya dari perbuatanmu itu kamu tidak akan mendapatkan keuntungan apapun. Mungkin kamu bisa berkata, “ Saya puas bila melampiaskan kemarahan saya , daripada semua emosi itu di tahan-tahan dalam hati.“ Tapi apakah kamu pernah berpikir, ketika kamu melukai hati orang lain, belum tentu orang itu akan senantiasa melupakan begitu saja, atau menganggap itu angin lalu. Tentunya tidak semua orang yang akan berpikir seperti itu .. Bagaimana kalau dia merasa dendam dengan apa yang kamu lakukan? Tentunya itu akan menjadi boomerang untuk dirimu sendiri bukan? Peribahasa pernah mengatakan.” Mulutmu adalah harimaumu.” Mulut adalah senjata manusia yang paling tajam yang bisa melukai manusia itu sendiri apabila tidak di pergunakan dengan baik. Kata-kata yang di lontarkan dari mulut kita sebaiknya tidak melukai perasaan orang lain, karena suatu saat itu akan merugikan diri kita sendiri.
Lalu, ketika merasa marah dan kesal, apa yang harus saya lakukan?? Apakah lebih baik menahan emosi daripada melampiaskannya?
“Saya tidak pernah melampiaskan kemarahan saya, saya selalu menahan amarah itu hingga sewaktu-waktu itu menjadi boomerang bagi diri saya sendiri. Kesehatan saya menjadi terganggu. Saya sering merasa pusing dan sesak napas, bahkan 2 bulan yang lalu, saya di vonis dokter telah terkena penyakit psikosomatis, penyakit gangguan psikologis yang berdampak pada fisik.” Amelia, 45 tahun
Kedua hal di atas menuturkan melampiaskan emosi dan kemarahan dengan mencaci maki ataupun menahannya , keduanya memilki dampak yang negative bagi diri kita sendiri. Mungkin beberapa dari kita sering merasa,” Sebenarnya saya tidak ingin bertengkar, tetapi dia selalu mencari gara-gara dan membuat saya menjadi kesal. Dia yang memulai pertengkaran ini.” Ketika kamu berpikir seperti itu berarti secara tidak langsung kamu telah berhasil membuat orang lain mengontrol emosimu. Lebih baik akuilah bahwa, “ Saya yang telah membiarkan diri saya terpancing dan bertindak berlebihan.”. Pemikiran itu tentu lebih bertanggung jawab daripada sekadar menyalahkan orang lain. Dengan berpikir seperti itu, tentunya kamu akan jauh lebih bijaksana dalam bertindak dan bertingkah laku.
Ketika kamu merasa marah kepada seseorang miasalnya karena dia mencaci maki atau berkata kasar padamu, lalu kamu pun membalas kemarahannya itu dengan caci maki yang tidak kalah kasarnya , dari sini kita bisa mengambil sebuah kesimpulam, apa bedanya kamu dengan dia yang membuatmu marah??? Kalian terlihat melakukan hal yang sama bukan?
Pada kenyataan sebenarnya, melampiaskan ataupun menahan kemarahan bukan merupakan cara yang efektif. Lalu apa yang harus kita lakukan bila suatu saat ada seseorang yang membuat kita merasa kesal dan jengkel???
Pernah saya mendengar sebua pepatah yang mengatakan, “ Ketika ada masalah orang bijaksana akan selalu menghindar, tetapi orang bodoh akan terus berjalan dan akhirnya dia tertimpa malapetaka. Ya.. jika kamu berada di sebuah situasi yang seperti itu, menghindar akan menjadi cara yang paling efektif agar kamu tidak terpancing dengan emosi dan kemarahan.. Menghindar akan jauh lebih baik daripada membiarkan dirimu terpancing dalam keadaan yang dapat membuat kamu merasa kesal atau marah.
“Ketika saya merasa amat kesal dengan seseorang, saya akan memilih untuk meninggalkan orang itu dan berjalan ke taman menghirup udara yang segar sambil melihat bunga-bunga di taman yang begitu indahnya, denga begitu saya akan merasa lebih tenang.” Kartika, 17 Tahun
“Saya akan menulis dan mencurahkan semua kekesalan saya pada sebuah blog pribadi, entah bagaimana ceritanya setiap kali sehabis saya curhat dan menumpahkan semuanya itu ke dalam blog, perasaan kesal yang saya rasakan akan sedikit berkurang.” Ratna, 21 Tahun
“Biasanya saya akan menceritakan kekesalan itu kepada Ayah, Ibu atau pacar saya. Meskipun mereka biasanya hanya mendengarkan saja tanpa memberi saran, tapi dengan begitu saya merasa benar-benar plong. Saya merasa kekesalan itu akan sedikit berkurang.” Chika, 21 Tahun
“Ketika saya benar-benar kesal, biasanya saya akan bermain basket dan meluapkan segala kekesalan saya dengan bermain basket. Alhasil perasaan saya menjadi sedikit lebih lega.” Ramli, 19 tahun
Beberapa cara yang di lakukan di atas merupakan cara-cara yang tentunya bisa kita lakukan agar dapat mengendalikan emosi. Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan emosi yang memuncak. Tentunya cara yang positif dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Perlu kita tanamkan dalam diri kita masing-masing,” Aku adalah pengendali emosiku dan tidak ada seorang atau apapun yang berhak untuk mengendalikannya.” Jika itu tertanam dalam diri kita masing-masing, pasti kita akan lebih mudah untuk mengendalikan emosi dan tidak terpancing atau terpengaruh terhadap lingkungan di sekitar kita. Kita juga akan lebih bijaksana dalam bertindak dan bertingkah laku di kehidupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar